Sabtu, 24 Januari 2026

,

Nge-Counter Setan

Belakangan ini banyak kelakuan dari kaum manusia yang membuat setan pada sungkem. Namun sungkemnya bukan karena manusia tidak lagi bisa digoda untuk berbuat dosa. Melainkan kelakuan manusia sekarang bahkan udah ngelebihin setan. Liat aja tuh. Dana haji di korup. Dana bencana alam di tilep. Bansos juga tu (asli ini pasti setan juga enggak kepikiran loh). Ini aku yakin mereka waktu sekolahnya dulu bukan lagi makan 5 ngaku 2 tapi lebih parah lagi, udah makan gak bayar malah minta kembalian (setan mana yang kayak gini kelakuannya). 

Padahal buat ngecounter setan kita tuh enggak harus berkelakuan ngelebihin setan. Ada loh hal-hal sederhana tapi setan sebel. Ini aku kasih contohnya :

Ketika kita mau infaq 50K seringkali dalam hati kita bilang itu "kebanyakan". Nah itu sebenernya yang lagi bisikin sudah tentu setan bin iblis. Disinilah waktu yang tepat buat ngecounter mereka. Kalau kata dia 50K itu kebanyakan, kita tambahin aja infaqnya jadi 100K. Aku jamin tuh setan pasti sebel (ngecounter banget enggak tuh).

Sering juga waktu kita niat mau shalat, dalam hati bilang "capek". Lagi-lagi aku bilang ini waktu yang tepat ngecounter mereka karena itu mereka yang bisikin. Counter dia dengan langsung kerjakan shalatnya. Kalau awalnya niat buat shalat wajib aja, ini sekalian lakukan shalat sunah juga (lagi-lagi pasti sebel banget tuh setan).

Jadi ingat ya. . . Setiap kita merasa setan mulai membisikan sesuatu, kita counter balik mereka. Jujur aku sih masih dendam sama setan karena udah buat nenek moyang kita keluar dari surga (kalau enggak kita masih enak-enak disurga saat ini). Masak iya ada kesempatan buat ngecounter mereka kita sia-siakan begitu aja. Yaa kuy gaslaaah. . .

Continue reading Nge-Counter Setan

Minggu, 18 Januari 2026

Enak itu Nagih


Aku sebenernya punya kelainan yaitu gak bisa berhenti kalau sudah makan makanan enak (ini kelainan bukan sih😂). Ya. . .kecuali kalau aku sudah kenyang banget atau makanannya yang habis duluan. Menurutku makanan enak itu begitu problematik. Gimana tidak? Disaat kita hendak makan, sering kali kita lebih memilih yang enak. Setelah dimakan malah ketagihan dan susah untuk berhentinya. Ujung-ujungnya membuat makan berlebihan. Terus aja gitu sampai gak sadar udah jadi gemoy.

Saat ini aku itu kebiasaan makan diwarung dengan alasan efisiensi waktu. Jadi aku baru aja pulang dari kantor dan memutuskan untuk makan nasi padang. Tapi masih bingung menentukan makan di RM  Sambalado atau RM Uda. Dilemanya RM Sambalado itu favoritku karena enak buanget dan kalau udah kesitu gak cukup makan satu piring sedangkan RM Uda itu rasanya biasa aja dan jaraknya dekat dari kantor. Dengan alasan efisiensi waktu dan agar tidak makan berlebihan akhirnya aku memilih RM Padang Uda.

Singkat cerita aku makan la itu nasi padang Uda. Tapi lah ya kok abis makan masih belum puas. Malah terngiang-ngiang diingatan enaknya nasi padang di RM Sambalado. Alhasil habis dari RM Uda aku makan lagi ke RM Sambalado. Hasilnya aku kenyang banget. Berakhir menyesal sambil memegang perut buncit ini. Sambil menyalahkan kenapa nasi pada RM Sambalado harus enak sih.

Habis dari kejadian ini akupun bertanya-tanya dan bermuhasabah diri. Kenapa ya enak itu bikin nagih? Kalau udah nagih seringkali jadi berlebihan. Kalau udah berlebihan pasti ujungnya tidak baik. Bahkan ini bukan cuma makanan. Bisa juga seperti scroll sosmed, berleha-leha, korupsi, nark*ba, s*ks, p*rn*grafi, dll. Hal yang enak ini juga seringkali effortless untuk menyukainya. Sebaliknya hal yang tidak enak itu malah berujung baik seperti puasa, makanan sehat, olahraga, belajar, dll. Tapi lah ya kok kita harus membentuk kebiasan dan effort lebih untuk menyukainya. Jadi dari sini aku jadi curiga dengan hal-hal yang terasa enak. Bisa jadi hal tersebut enak tapi belum tentu itu baik.



Continue reading Enak itu Nagih

Minggu, 11 Januari 2026

Mendengarkan Blog

Sebelumnya kalian pernah enggak sih kepikiran buat mendengarkan blog. Iya bener. . . mendengarkan bukan membaca. Kalau membaca mah udah biasa ya. Jadi sekarang tuh, blog yang kita ketik tulis ini selain kita baca juga bisa kita denger. Bukan. . . bukan dengan menyuruh orang lain membacakannya lalu kita dengerin. Melainkan ini sebuah fitur yang memang sudah disediakan dan kita tinggal pakai saja. Biar ada gambarannya kalian bisa lihat video berikut  (volume dihidupin ya):

Nama fiturnya itu "Read Aloud" atau baca dengan lantang. Sebenernya fitur ini udah lama, hanya saja sekarang terdengar lebih natural karena text to speech-nya sudah dibekali AI. Fitur ini sih yang aku tau baru ada di browser Microsoft Edge ya. Browser lain seperti Mozilla, Chrome aku coba cari sih belum ada (koreksi kalau aku salah). 

Kalau aku sih, fitur ini berguna kalau lagi capek baca (mata lelah karena kelamaan natap layar). Caranya simple banget kok:
  • Buku Browser Edge
 
  • Buka blog atau artikel yang hendak kalian dengar lalu klik logo A diujung kolom URL

  • Entar muncul bar seperti ini :

  • Aku saranin Voice Options-nya pilih yang "Microsoft Ardi Online" karena suaranya terdengar natural tidak seperti robot (berasa kek lagi dibacain gitu). Kecepatan bacanya juga bisa kalian atur disini


Udah gitu aja sih, dengan begitu kalian sudah bisa mendengarkan blog. Dan fitur ini juga tersedia di smartphone ya kawan-kawan. Tapi sayangnya kalau artikel yang mau kita dengar itu ada banner iklan. Teks iklannya juga akan terbaca dan itu lumayan mengganggu untuk didengar. Fitur ini juga belum bisa mendeskripsikan gambar karena mungkin fitur ini tujuannya cuma bacain teks ya.

Harapanku, fitur ini nantinya bisa lebih canggih lagi. Nantinya tulisan blog hanya dengan sekali klik bisa dibaca, didengar dan juga ditonton layaknya podcast, berita, sketsa atau bahkan film yang dasar kontennya itu cuma tulisan (kek nggak asing ya. . . prompt ðŸ˜‚). 

Tapi btw kalian udah pernah coba fitur ini?




Continue reading Mendengarkan Blog

Selasa, 06 Januari 2026

Trik Sarungan



Tak terpikirkan olehku sebelumnya. Bagaimana membawa uang ketika sedang memakai sarung? Disaku bajulah bang. Iya bener. Bagaimana kalau baju yang kita kenakan tak bersaku? Sarung tidak memiliki saku (kecuali sarung modif). Padahal memakai sarung sungguh praktis dan nikmat tapi lah ya kok ribet kalau mau bawa uang.

Keperluan membawa uang ketika hendak ke warung tidak kenal kondisi. Mau itu lagi pakai stelan jas atau lagi pakai sarung. Kebetulan saat ini aku gemar menggunakan sarung (maklum umur sudah hampir menginjak kepala orang). Tidak jarang aku mengalami kesulitan ketika hendak ke warung hanya sekedar untuk membeli snack atau kebutuhan rumah. 

Ada opsi nyelipin uang diantara sempak  sarung tapi sungguh tidak septi karena bisa aja jatuh tanpa sadar dan terasa risih terkena kulit. Sampai akhirnya aku menemukan trik ini :


Uwauu. . .Sungguh nikmat tuhan mana yang kau dustakan kawan. Trik ini sangat aman dan nyaman. Cuma satu kekurangannya. Ketika mau bayar belanjaan dikira sedang menggaruk BIJI. 

Kepada mbak penjaga warung : Maafkan aku ya mbak, sudah membuat mbak salah paham. Kabur. . . . 
Continue reading Trik Sarungan