Akhir bulan januari kemarin kantorku mengadakan acara diluar kota. Di acara ini aku ditunjuk menjadi salah satu panitia. Kesibukan menjadi panitia acara itu bikin lupa diri. Sibuk ngurusin acara eh dirinya sendiri lupa mandi, makan, minum, nafas. Dipikiran ini isinya acara, acara dan acara sedangkan untuk urusan diri sendiri terkesan nanti-nanti dulu yang penting urusan acara berjalan lancar.
![]() |
| berlagak seperti panitia |
Sebelum keluar kota, pakaian sudah aku siapkan untuk kebutuhan selama acara tanpa perlu ada yang di loundry. Jadi selesai acara cukup bawa pulang pakaian kotor dan cuci sendiri dirumah (itung-itung berhemat). Tapi yang aku lupa adalah pakaian dirumah kebanyakan menumpuk belum dicuci. Ini baru aku sadari sesampainya pulang dari luar kota. Stok pakaian harian dan kantor sih masih aman. Stok kolor alias bin sempak bolong sudah diambang kritis bahkan habis. Tersisa yang menempel disarang saja.
Langsung ngeh begitu sampai rumah sempak sudah gak ada yang ready pakai. Malam itu juga aku cuci terus keringin di mesin cuci dan jemur begitu aja didalem rumah mengandalkan sinar bertenaga lampu LED. Berharap besok paginya sudah kering dan siap dipakai buat kerja.
Namun apalah daya dan upaya ini, sinar bertenaga LED tidak mampu mengeringkan sempak bolong ku ini. Dia tidak kering tapi juga tidak begitu basah, para pakar sering menyebut kondisi ini dengan LEMBAB (baca pakai pantulan qolqolah - lembabebghh). Aku yang masih memiliki perasaan ini, tidak akan membiarkan ucokku menggantung tanpa ada tumpuan (karena aku paham sakitnya digantungin), jadilah sempak lembab ini tetap aku pakai. Walaupun awalnya terasa aneh (dingin-dingin tanggung), aku abaikan saja.
Efek sosisalnya dikantor aku menghindari untuk bertemu orang lain. Sebisa mungkin aku bekerja hanya dimeja kerja sendiri. Sempak lembab ini sungguh membuat reaksi-reaksi yang tidak sedap dipandang mata (garuk selangkangan). Kalau saja ada yang melihatku sedang menggaruk daerah itu, apa kata dunia perkantoran yang sangat kejam ini.
Jam istirahat yang cukup lama ku tunggu, akhirnya tiba juga. Langsung aja aku ngacir kerumah buat mengganti sempak lembab ini dengan sempak yang ku jemur dan sudah kering. Sungguh adegan yang sangat berbahaya dan aku sarankan teman-teman sekalian tidak mengalaminya atau mencobanya. Mungkin kedepannya aku mau pakai sempak sekali pakai atau sempak kertas supaya kejadian kek gini tidak terulang lagi. Bye. . .


