Sabtu, 29 November 2025

Semua Akan Rusak Pada Waktunya




Siapa yang bisa menjamin barang yang kita pakai sehari-hari tidak akan rusak. Mau itu gadget, kendaraan atau cuma sekedar sempak yg kita pakai. Biasanya rusak karena pemakaian. Bisa juga karena umurnya. Bisa juga karena keteledoran diri sendiri. Bahkan barang lama yang tidak dipakai saja bisa rusak padahal gak dipakai loh itu.

Sadarkah kita, kalau sebenarnya kita ketergantungan dengan barang yang saat ini kita gunakan. Kalau salah satunya saja rusak pasti ada aja aktivitas yang terganggu dan bikin resah.

Kita deh yang laki-laki ini. Sempak rusak yang sudah berlubang-lubang tapi enggak juga diganti (kebiasaan siapa ini woyyy). Sampai-sampai tidak mampu lagi menampung beban perbijian ini (tak usah dibanyangkan ya teman). Biarpun rasanya sudah tidak nyaman tapi tetap kita paksakan untuk memakainya. Karena kita tahu tidak pakai sempak  jauh lebih tidak nyaman (bergelantungan tapi bukan Spiderman). Gimana kalau hape yang saat ini kita genggam tiba-tiba rusak. Mau dipaksa pakai pun tak bisa. Setelahnya ada rasa nyaman yang harus kita tinggalkan. Gelisah gak bisa scroll sosmed lah, gelisah gak bisa chat si doi lah. Gelisah aja lah pokoknya. hmm. . .Sepertinya kita sudah ketergantungan dengan barang-barang bisa rusak kapan aja ini deh.

Anggap saja kita sudah merawat dan berhati-hati memakainya. Okey umur pakainya semakin panjang. Kalaupun rusak bisa saja kita perbaiki toh banyak penyedia jasa service, tergantung ada duitnya atau enggak. Tapi apakah itu semua bisa membuatnya untuk dipakai selamanya. tidak! Semua akan rusak pada waktunya. Kalau diingat lagi selama hidup sudah berapa barang yang menemani sampai akhirnya rusak dan berakhir dengan menggantinya. Tidak ada yang salah dengan menggantinya karena kita BUTUH ketergantungan dengannya.

Lalu aku termenung. Apakah semua ini hanya soal mengganti yang rusak dengan yang baru?  atau ini sebuah pelajaran tentang kefanaan bahwa tidak ada yang abadi. Atau apa sebenarnya semua ini?

Hingga akhirnya terbayang olehku gadget yang rusak tergeletak, ku lihat sosoknya seperti prajurit yang kalah perang. Dia yang setia menemani. Penghubung ku ke dunia entah berantah dan Si penyimpan kenangan. Kini, layarnya retak dan baterai yang tak lagi mau mengisi. Seakan dia berkata padaku: "Aku sudah selesai dengan tugasku dan silahkan cari penggantiku." Ceilaaah. . . se-dramatis inikah kita dengan gadget yang semua dan apapun bentuknya bisa rusak kapan saja? atau . . . ?



Continue reading Semua Akan Rusak Pada Waktunya

Kamis, 23 Oktober 2025

Kepikiran Dosa



Kalau kalian lihat di arsip blog ini, produktifitas menulisku setiap tahunnya cuma ada satu tulisan dan itu kesannya memang seperti dipaksakan. Lebih kek supaya ada tulisan aja, minimal satu disetiap tahunnya. Di blog ini aku malah lebih sering melakukan blogwalking daripada menulis. Jujur sebenarnya masih belum PD dengan tulisan sendiri. 

Tapi kali ini aku lagi kepikiran dosa dan pengen banget menuliskannya di blog ini. Bukan untuk menggurui atau menceritakan aib sendiri yang sangat banyak ini. Karena kalau mau menggurui ilmuku masih seujung kuku bakteri dan kalau mau nyeritain aib sendiri juga itu sungguh tidak dianjurkan (coba deh cek QS. An-Nur:19). Disini aku sekedar kek mau curhat keresahan yang belakangan ini lagi aku rasain yaitu berkenaan dengan dosa.

Jadi tuh ya, kalau abis ngelakuin dosa. Sebenernya ada saja hal sial yang menghampiri setelahnya. Bisa kek tiba-tiba kesedak waktu nyeruput kopi lah, enggak sengaja ngirim stikers jahat di grup kantor lah. . .(malu dan jadi aib sih ini), isi rekening yang tiba-tiba diakhir bulan menipis lah (enggak tiba-tiba sih ini) dan amit-amit ke sleding Sergio Ramos pas lagi nonton highlight bola (ini paling serem sih). Hanya saja aku atau kita ni ya, suka gak sadar kalau itu sebetulnya bentuk teguran dari Tuhan the one only Allah SWT. Seandainya saja disetiap kesialan itu seiring dengan kesadaran telah berbuat dosa, kan minimal kita bisa langsung istigfar dan syukur-syukur bisa langsung tobat atau bermuhasabah diri. Lah ini parahnya, abis itu malah mengumpat atau memaki.

Kalau dipikir-pikir lagi ya, sebenernya ada yang lebih serem dari mendapat sial setelah ngelakuin dosa. Apa itu bang? Enggak lagi mengalami hal sial setelahnya. Lah kenapa lebih serem? karena itu tandanya dosa yang kita lakukan itu sudah terlalu sering dan Allah udah enggak mau lagi menegur lewat kesialan-kesialan tadi. Kebayang kan setelah itu kita dibiarkan melakukannya terus-menerus dengan tenang aman damai sampai ajal menjemput. Artinya kita dibiarkan berdosa-dosa tanpa ada yang menegur lagi. Apa enggak serem tuh sialnya nanti diakhirat. Ih. . . . sereeem bangetlah pasti. . . 

Kalian jadi kepikiran dosa juga kan! ya kannn. . . yuk istigfar. . .

Continue reading Kepikiran Dosa

Selasa, 05 November 2024

Pikiran Random

Kadang suka heran sama pikiran sendiri. Tiba-tiba aja bisa terlintas dikepala, kenapa roti bakar itu digoreng bukan dibakar? kenapa nggak direbus aja? Pertanyaan ini memang terlihat biasa aja tapi bisa bikin cengar-cengir sendiri sambil memikirkan jawabannnya.

Kadang aku juga kepikiran, gimana sih cara cebok yang bener dan sesuai SOP ? yang bener itu disiram dari depan tangan dibelakang atau siram dari belakang tangan didepan? atau ada opsi lain seperti , kayang dulu baru cebok? kira-kira udah ada yang buat SOP nya belum ya?  ISO kategori berapa kalau bener ada? Ngaku lu.... pasti pernah mikir gini juga kan ! atau emang aku aja ya yang mikir kayak gini. Boleh komen dong yang  yang sepemikiran...

Pertanyaan ini juga sering muncul dikepala saat sedang berak + melamun. Sebetulnya pemerintah itu tugasnya ngapain sih. Pemerintah itu memerintah siapa? RAKYAT? kan pemerintah petugas rakyat kok merintah.

Tentu ini sebetulnya hanya pikiran-pikiran kosong yang gak bisa dipertanggungjawabkan hasil jawabannya. Tapi kalau ada yang mau menjawabnya, boleh... monggoo silahkeun... 


Continue reading Pikiran Random

Rabu, 20 Desember 2023

Senin itu Beda


Tulisan ini diperuntukkan khusus buat hari senin walaupun tulisan ini dibuat bukan pada hari senin. Nulis blog dihari senin itu bisa dikatakan mendekati mustahil. Kerjaan bisa lebih banyak 5 kali lipat dari hari lainnya. Kok hari senin beda ya? Hakikatnya hari senin dengan hari yang lain cuma beda penamaannya saja. Tapi setelah banyaknya hari senin yang aku lewati, kok ya senin ini rasanya beda.  Senin itu udah kayak sayur kebanyakan micin, rasanya huweeeek banget gitu.

Padahal ni ya, hari senin itu datang setelah melewati hari libur minggu. Tapi kenapa belum senin aja udah males duluan. Tapi aku juga enggak mau nyalahin senin sepenuhnya. Bisa jadi ini ulah hari minggu. Ya hari minggu ini penyebabnya. Kita dibuat terlena, malas dan akhirnya tak berdaya ~agak lebay ya. Apalagi kalau hari minggunya abis liburan jalan-jalan pasti seninnya capek banget. Tapi biarpun hari minggunya enggak ngapa-ngapain tetap aja senin eksklusif berbeda dengan hari lain. Kenapa ya?

Apa karena kebiasaan ketika mendekati weekend. Kerjaan itu sengaja kita tunda karena udah fokus dengan hari libur dan akhirnya senin menjadi numpuk banget kerjaan. Bisa jadi sih. Tapi....

Apa jangan-jangan ini memang sudah diajarkan sejak dulu dari bangku sekolah ya. Senin itu hari yang spesial di negara kita Indonesia. Setiap senin kita harus melakukan upacara bendera. Kita disuruh berpakaian seragam lengkap dasi, topi dan atribut lainnya. Itu membuat kita harus lebih siap menghadapi hari senin dengan effort lebih dari hari-hari lainnya disekolah. Lebih berat lagi kalau kelas kita senin itu terpilih menjadi pelaksana upacara. Apalagi kalau harinya terik panas banget ~paket komplit sudah. 

Semua ini bisa aja sudah jadi takdir hari senin. Memang kita dibuat harus lebih ekstra menghadapi hari senin. Tenaga ekstra juga letih yang lebih ekstra. Kalau kalian gimana sih menghadapi senin yang spesial ini? capek gak sih...


Continue reading Senin itu Beda

Jumat, 01 Desember 2023

Masak Mesamak

 Aku yang anak kost ini. Kalau soal masak, ampun dah. Dimana masak bisa dibilang salah satu cara bertahan hidup anak kost tapi aku malah payah dibidang ini. Bisa sih kalau cuma masak nasi di rice cooker, telor goreng rebus dadar, mie instan dan Sarden. Alhasil untuk makan hari-hariku lebih milih beli ke warung. Ya dengan cara itu aku masih tetap hidup sampai sekarang. Asal Ada uang, aman itu mah.

Singkat cerita, akhirnya aku menikah dengan seorang wanita yang bisa ku bilang sangat handal memasak. Makanan setelah menikah sangat begitu nikmat ku rasa. Begitu berasa masakan rumahannya dan menu-menu sehat jadi lebih sering mampir ke lambungku. Kalau dulu aku sering mampir ke warung sekarang jadi lebih sering ke pasar nemenin istri belanja. oh... indahnya.

Atas karunia tuhan istri ku pun hamil. Aku sangat bersyukur. Tetapi ketika istri hamil hampir semua bau bumbu masakan membuatnya mual. Dia sudah mencoba untuk memasak tapi rasa mual membuatnya lemas dan seringkali munt*h. Akupun menyuruhnya untuk tidak memasak dulu sampai sehat kembali. Ya mau gak mau aku kembali membeli masakan warung. Tapi yang dulu aku makan diwarung itu oke-oke aja. Ya kok sekarang jadi merasa ada yang kurang ya. Lidahku selama menikah udah kejalan yang benar. Begitu aku beli masakan warung lagi kok ya rasanya jadi over bumbu dan jadi gak enak lagi dilidah ini padahal udah langganan dulu. Aku sampai berpikir, apa aku sudah kecanduan masakan istri ya ? Sampai-sampai masakan warung harus belajar dari awal lagi untuk menerimanya. Dikondisi istri yang lagi hamil dan lemes seperti itu akhirnya kami rundingkan untuk memulangkannya ke kampung halaman sampai lahiran supaya ada yang jaga. Akupun sendirian lagi diperantauan.


Untuk menghemat. Karena untuk biaya hidup yang dibagi menjadi dua. Saya setuju untuk meluangkan waktu buat masak setiap harinya. Bisa dibilang disinilah awal mula dunia masak memasakku dimulai. Bermodalkan live tutorial dari istri lewat telpon. Akupun mengikuti arahannya step by step. Dan sungguh diluar ekspetasiku hasilnya menurutku enak. Lidahku udah kembali ke jalur yang benar lagi. Walaupun sering kali terjadi kesalahan kecil seperti kurang nambah bumbu ini bumbu itu ketika mencoba sendiri. Tapi masih oke banget menurut aku sih.

Makin kesini aku sekarang makin pede dengan masakan sendiri. Saking pedenya aku langsung pengen daftar Master Chef kalau syaratnya boleh dipandu istri sih. doain ya temen-temen....


Continue reading Masak Mesamak